Resume Sistem Informasi Manajemen Bab 5 - Management Database

RESUME
SISTEM INFORMASI MANAJEMEN
BAB 5
MANAGEMENT DATABASE
 





  


Disusun oleh :

Bella Aghista Anggraini                    (1410209418)
Rochmana Malika Ismaya                (1410209086)
Karizha Anindita                               (1410209307)
Selvi Andriani                                    (1310208222)
Dimas Kus Prasetyo                           (1310208129)


6-SM7
SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI INDONESIA SURABAYA
(STIESIA SURABAYA)
2016

`RESUME BAB 5
SISTEM MANAJEMEN BASIS DATA
Sistem manajemen basis data  adalah suatu sistem atau perangkat lunak yang dirancang untuk mengelola suatu basis data dan menjalankan operasi terhadap data yang diminta banyak pengguna. Contoh tipikal SMBD adalah akuntansi, sumber daya manusia, dan sistem pendukung pelanggan, SMBD telah berkembang menjadi bagian standar di bagian pendukung (back office) suatu perusahaan. Contoh SMBD adalah Oracle, SQL server 2000/2003, MS Access, MySQL dan sebagainya. DBMS merupakan perangkat lunak yang dirancang untuk dapat melakukan utilisasi dan mengelola koleksi data dalam jumlah yang besar. DBMS juga dirancang untuk dapat melakukan manipulasi data secara lebih mudah. Sebelum adanya DBMS, data pada umumnya disimpan dalam bentuk flat file, yaitu file teks yang ada pada sistem operasi. Sampai sekarangpun masih ada aplikasi yang menimpan data dalam bentuk flat secara langsung.
Menyimpan data dalam bentuk flat file mempunyai kelebihan dan kekurangan. Penyimpanan dalam bentuk ini akan mempunyai manfaat yang optimal jika ukuran filenya relatif kecil, seperti file passwd pada sistem operasi Unix dan Unix-like. File passwd pada umumnya hanya digunakan untuk menyimpan nama yang jumlahnya tidak lebih dari 1000 orang.

A.     Organisasi Data
            Komputer pada awalnya digunakan untuk memecahkan masalah-masalah yang membutuhkan kalkulasi angka yang rumit dan membsankan yang membutuhkan sedikit inputdan output. Dewasa ini perusahaan membutuhkan jumlah input dan output yang sangat besar. Perusahaan sering kali membutuhkan komputer untuk memecahkan masala yang sama dengan input yang berbeda secara berulang kali.
            Perusahaan menyimpan data yang cukup besar di sistem informasi berbasis komputernya karena perusahaan tersebut melakukan begitu banyak transaksi bisnis. Agar dapat  menggunakan data dan terhndar dari kekacauan konsep “data” telah dipecah dan dikurangi menjadi konsep yang lebih kecil yang akan menyediakan balok-balok pembangun yang dapat dikombinasikan untuk meghasilkan kembali data awal dalam suatu bentuk yang terorganisasi dan dapat diakses.


Hirarki Data
Data bisnis secara tradisional telah diorganisasikan ke dalam suatu hierarki field-field data yang bergabung untuk membentuk record, dan record yang bergbung ubtuk membentuk file. Field Data adalah unit data yang terkecil; mencerminkan jumlah data yang terkecil yang akan ditarik dari komputer pada satu waktu. Contoh field data dapat berupa kode matakuliah. Record adalah suatu koleksi field-field data yang saling berhubungan. File adalah koleksi record yang saling berhubungan, seperti satu filedari seluruh record yang berisi field kode-kode matakuliah dan namanya.
Basis data adalah sekumpulan file yang berada dibawah kendali piranti perangkat lunak sistem manajemen atau data perusahaan yang dikendalikan dan diadministrasikan oleh sistem manajemen basis data. Bisa dikatakan bahwa basis data adalah kumpulan dari semua data berbasis komputer.

B.    STRUKTUR BASIS DATA
      Struktur basis data adalah cara data diorganisasi agar pemrosesan data menjadi lebih efisien. Struktur ini kemudian diimplementasikan melalui suatu sistem manajemen basis data.
Sistem manajemen basis data (DBMS) adalah suatu peranti lunak yang menyimpan struktur basis data, data itu sendiri , hubungan di antara data di dalam basis data, nama-nama formulir, jenis-jenis data, angka di belakang desimal, jumlah karakter, nilai-nilai default, dan seluruh uraian field lainnya.
1.        Struktur Basis Data Hierarkis
      Struktur hirarkis ini dibentuk oleh kelompok-kelompok data,subkelompok, dan beberapa subkelompok lagi, seperti cabang dari sebuah pohon, untuk mendapatkan sebuah record dari satu cabang ke cabang lainnya mengharuskan sistem manajemen basis data tersebut menavigasi kembali ke persimpangan umum dari cabang-cabang tersebut. Struktur hierarkis memanfaatkan sumber daya komputer secara efisien, khususnya ketika sebagian besar record di dalam basis data akan digunakan dalam suatu aplikasi. 
 






2.        Struktur Basis Data Jaringan
      Struktur basis data jaringan dikembangkan untuk memungkinlcan penarikan record-record tertentu. Ia memungkinkan satu record tertentu menunjuk pada semua record lainnya di dalam basis data'' Gugus Tugas Basis Data yang merupakan subkomite dari CODASYL mengeluarkan spesifikasinya untuk struktur basis data jaringan pada tahun 1971.
Struktur jaringan memecahkan permasalahan keharusan untuk menarik balik hingga kembali ke "cabang" yang menyatukan basis data. Secara konseptual, setiap record dalam basis data dapat menunjuk ke semua record lain di dalam basis data, ibaratnya seperti meloncat ke setiap cabang pada sebuah pohon. Akan tetapi, rentang kemungkinan koneksi yang begitu lebar ini juga merupakan kelemahan dari penerapan struktur jaringan pada masalah-masalah praktis. Mengizinkan setiap record menunjuk ke record-record yang lainnya akan terlalu kacau. Bahkan profesional sistem informasi sekalipun akan mengalami kesulitan dalam mengembangkah dan menggunakan basis data dengan menggunakan struktur jaringan.


3.        Struktur Basis Data Relasional
      Sekumpulan basis data seperti ini terlihat seperti sekumpulan table-tabel yang mirip seperti table-tabel spreadsheet.Relasi diantara table tidak disimpan sebagai petunjuk atau alamat; sebagai gantinya, relasi antar table bersifat implisit.
      Jika struktur hierarkis dan jaringan mengandalkan diri pada relasi fisik (physical^ relationship) di dalam bentuk alamat-alamat penyimpanan, relasi dalam struktur basis| data relasional adalah implisit. Relasi implisit (implicit relationship) dapat secara tidakf langsung berasal dari data. Ketika terdapat satu field (kolom) data yang sama dalam dual tabeL'maka record (baris) dari kedua tabel tersebut akan dapat digabungkan ketika nilai-nilail field datanya sama. Inilah cara bagaimana kita telah menggabungkan bersama tabel-tabel JURUSAN dan MATA KULIAH dengan menggunakan nilai-nilai dalam field Singkatan,
Konsep dari suatu struktur basis data yang terdiri atas tabel-tabel di mana relasi terbentuk secara implisit dengan mencocokkan nilai-nilai dalam field data yang sama, akan mudah untuk dipergunakan dan dipahami. Kemudahan penggunaan memiliki arti yang sangat penting. Ketika organisasi menjadi lebih "datar" (ketika telah direorganisasikan sehingga memiliki lapisan manajemen yang lebih sedikit), akan terdapat lebih banyak spesialis yang tersedia untuk mengumpulkan data dari sistem berbasis komputer dan membuat laporan bagi manajer. Para manajer dan staf profesional harus mengakses informasi secara langsung dari suatu basis data agar dapat mendukung pengambilan keputusan yang mereka lakukan. Struktur mirip tabel dari sistem manajemen basis data relasional adalah sebuah format yang dapat dipahami dengan cepat oleh manajer maupun staf profesional.

CONTOH BASIS DATA RELASIONAL
      Contoh-contoh field data , tabel, dan relasi di antara tabel akan memberikan latarbelakang untuk konsep-konsep basis data yang akan disajikan . Suatu basis data bernama jadwal telah dibuat dari tabel-tabel yang telah digunakan. Basis data akan memecahkan informasi kedalam beberapa tabel karena jika informasi hanya disimpan pada satu tabel, maka akan terdapat banyak nilai field data yang terduplikasi; sehingga menyebabkan data menjadi berulang (redundant). Basis data akan mengurangi pengulangan data dalam tabel-tabel.
Basis Data Jadwal
      Contoh yang dipergunakan di sini diimplementasikan pada piranti lunak sistem menejemen basis data Microsoft Access, namun implementasi ini akan serupa pada setiap produkk basis data relasional lainnya. IBM, Oracle, Microsoft, dan banyak perusahaan lain menyediakan peranti lunak sistem menejemen basis data relasional.
Konsep Basis Data
      Ketika pengguna memikirkan record di dalam suatu basis data, mereka secara intuitif akan merasa bahwa urut-urutan record yang ditampilkan dalam sebuah laporan merupakan cerminan dari urut-urutan penyimpanan record tersebut di dalam disk komputer.

C.      MEMBUAT BASIS DATA 
      Konsepnya, proses pembuatan sebuah basis data akan melibatkan tiga langkah utama, yaitu:
a.         Menentukan data yang andabutuhkan.
b.        Menguraikan data tersebut.
c.         Memasukkan data kedalam basis data.

D.      MENGGUNAKAN BASIS DATA
      Kita biasanya berinteraksi dengan sebuah basis dta dari sebuah komputer pribadi meskipun data tersebut berada ditempat lain dalam jaringan. Formulir , laporan dan query aadalah metode-metode umum yang dipergunakan untuk mengakses basis data yang disimpan dalam suatu systemmenejemen basis data.
1.        PERSONEL BASIS DATA
      Terdapat beberapa personel penting yang berkaitan dengan basis data. Administrator basis data memiliki tanggung jawab teknis maupun menejerial atas sumber daya basis data.
Spesialis informasi yang ahli dalam mengembangkan, menyediakan dan mengamankan basis data adalah administrator basis data. Administrator basis data mengawasi seluruh aktivitas basis data. Mereka harus memiliki keahlain menejerial maupun keahlian teknis yang tinggi. Tugas-tugas DBA dapat dibagi menjadi empat area utama:perencanaan, implementasi operasi dan keamanan:
a.       Perencanaan basis data
b.      Implementasi basis data
c.       Operasi basis data
d.      Keamanan basis data

2.        PROGRAMER BASIS DATA
      Programer basis data menunjukkan spesialisasi dan seleksi tingkat tinggi. Mereka sering kali memiliki lebih banyak pengalaman dan pelatihan daripada programmer-programer lain yang dimiliki oleh perusahaan. Salah satu alasannya adalah bahwa basis data merupakan pusat penyimpanan fakta bagi perusahaan. Jika terjadi kesalahan pemrogaman di dalam basis data, maka konsekuensinya akan dapat dirasakan oleh pengguna dalam jumlah yang sangat besar.

E.       Menempatkan Sistem Manajemen Basis Data dalam Perspektif
            Sistem manajemen basis data atau DBMS merupakan perangkat lunak yang dapat melakukan utilisasi dan mengola koleksi data dalam jumlah yang besar. DBMS juga di rancang untuk melakukan manipulasi data secara lebih muda. Sebelum adanya DBMS, data pada umumnya disimpan dalam bentuk flat file, yaitu file teks yang ada pada sistem operasi DBMS dapat diartikan sebagai program komputer yang digunakan untuk memasukkan, mengubah, menghapus, memodifikasi dan memperoleh data/informasi dengan praktis dan efisien.
            Melalui manajemen basis data, memungkinkan bagi kita untuk membuat sebuah basis data, memelihara isisnya dan menyebarkan data kepada khalayak pengguna  yang luas tanpa harus menggunakan pemrograman komputer dengan biaya yang mahal.
Kelebihan dari DBMS antara lain adalah:
a)      Kepraktisan DBMS menyediakan media penyimpan permanen yang berukuran kecil namun  banyak menyimpan data jika dibandingkan dengan menggunakan kertas.
b)      Kecepatan. Komputer dapat mencari dan menampilkan informasi yang dibutuhkan dengan cepat.
c)   Mengambil data secara cepat dan praktis.
d)  Meningkatkan keamaanan data.
e) Update to date; Informasi yang tersedia selalu berubah dan akurat setiap.
f)  Memudahkan pengguna dalam menggali informasi dari kumpulan data
g)      Mengurangi duplikasi data atau data redundancy
h) Meningkatkan keamanan data
i)   Memudahkan pengguna dalam menggali informasi dari kumpulan data
j)   Meningkatkan pemeliharaan data melalui independensi data

Kelemahan-kelemahan DBMS antara lain:
a)      Biaya Kebutuhan untuk medapatkan perangkat lunak dan perangkat keras yang tepat cukup mahal, termasuk biaya pemeliharaan dan sumber daya  manusia yang mengelola basis data tersebut.
b)      Mempekerjakan dan mempertahankan DBA
c)      Sangat kompleks. Sistem basis data lebih kompleks dibandingkan dengan proses berkas, sehingga dapat mudah terjadinya kesalahan dan semakin sulit dalam pemeliharaan data.
d)     Memerlukan suatu skill tertentu untuk bisa melakukan administrasi dan manajemen database agar dapat diperolehh struktur dan relasi data yang optimal.
e)      Memerlukan kapasitas penyimpanan baik eksternal disc maupun internal memory agar DBMS dapat bekerja cepat dan efisien.
f)       Kebutuhan akan sumber daya resources biasanya cukup tinggi.












Resume Sistem Informasi Manajemen Bab 4 - System Development


RESUME
SISTEM INFORMASI MANAJEMEN
BAB 4
SYSTEM DEVELOPMENT


Disusun oleh :

Bella Aghista Anggraini      (1410209418)
Rochmana Malika Ismaya   (1410209086)
Karizha Anindita                 (1410209307)
Selvi Andriani                     (1310208222)
Dimas Kus Prasetyo            (1310208129)


SM-7
SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI INDONESIA SURABAYA
(STIESIA SURABAYA)
2016





4.1.      The Traditional System Development Life Cycle(SDLC)

      Tidak dibutuhkan waktu lama bagi seorang pengembang sistem yang pertama untuk mengetahui bahwa terdapat beberapa tahapan pekerjaan pengembangan yang perlu dilakukan dalam urut-urutan tertentu jika suatu proyek ingin memiliki kemungkinan berhasil yang paling besar. Tahapan-tahapan tersebut adalah sebagai berikut:
a.       Perencanaan
b.      Analisis
c.       Desain
d.      Implementasi
e.       Penggunaan
      Proyek direncanakan dan sumber-sumber daya yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan kemudian disatukan. Sistem yang ada juga dianalisis untuk memahami masalah dan menentukan persyaratan fungsional dari sistem yang baru. Sistem baru ini kemudian dirancang dan diimplementasikan. Setelah implementasi, sistem kemudian digunakan idealnya untuk jangka waktu yang lama.
      Karena pekerjaan-pekerjaan di atas mengikuti satu pola yang teratur dan dilaksanakan dengan cara dari atas ke bawah, SDLC tradisional sering kali disebut sebagai pendekatan air terjun (waterfall approach). Aktivitas ini memiliki aliran satu arah menuju ke penyelesaian proyek.
      Mudah bagi kita untuk melihat bagaimana SDLC tradisional dapat dikatakan sebagai suatu aplikasi dari pendekatan sistem. Masalah akan didefinisikan dalam tahap-tahap perencanaan dan analisis. Solusi-solusi alternatif diidentifikasi dan dievaluasi dalam tahap desain. Lalu, solusi yang terbaik diimplementasikan dan digunakan. Selama tahap penggunaan, umpan balik dikumpulkan untuk melihat seberapa baik sistem mampu memecahkan masalah yang telah ditentukan.

4.2.      PROTOTYPING
            Dalam penerapannya pada pengembangan sistem, prototipe adalah satu versi dari sistem potensial yang memberikan ide bagi para pengembang dan calon pengguna, bagaimana sistem akan berfungsi dalam bentuk yang telah selesai. Proses pembuatan prototipe ini disebut prototyping.

A.    Daya Tarik Prototyping
      Pengguna maupun pengembang menyukai prototyping karena alasan-alasan di bawah ini:
1.      Membaiknya komunikasi antara pengembang dan pengguna.
2.      Pengguna memainkan peranan yang lebih aktif dalam pengembangan sistem.
3.      Implementasi menjadi jauh lebih mudah karena pengguna tahu apa yang diharapkannya.

B.     Potensi Kesulitan dari Prototyping
      Prototyping memiliki beberapa kesulitan, kesulitannya adalah sebagai berikut:
1.      Antarmuka komputer-manusia yang diberikan oleh beberapa alat prototyping tertentu kemungkinan tidak mencerminkan teknik-teknik desain yang baik.
2.      Terburu-buru dalam menyerahkan prototipe dapat menyebabkan diambilnya jalan pintas dalam definisi masalah, evaluasi alternative, dan dokumentasi. jalan pintas ini akan menciptakan usaha-usaha yang “cepat dan kotor”.
      Baik pengguna maupun pengembang hendaknya mewaspadai potensi kesulitan-kesulitan di atas ketika mereka memilih untuk melaksanakan pendekatan prototyping.

4.3.      Rapid Application Development

           Rapid application development adalah satu metodologi yang memiliki tujuan yang sama dengan prototyping, yaitu memberikan respon yang cepat atas kebutuhan pengguna, namun dengan lingkup yang lebih luas.Unsur-Unsur Penting RAD terdiri dari empat unsur penting, yaitu sebagai berikut:

1.   Manajemen
        Khususnya manajemen puncak hendaknya menjadi penguji coba yang suka melakukan hal-hal dengan cara baru atau pengadaptasi awal yang dengan cepat mempelajari bagaimana cara menggunakan metodologi.

2.   Orang
Anggota dari tim adalah para ahli dalam metodologi dan alat yang dibutuhkan untuk melakukan tugas-tugas khusus mereka masing-masing.
  
3.   Metodologi
Metodologi dasar RAD adalah siklus hidup RAD.

4.   Alat-alat
Alat-alat RAD terdiri dari bahasa dan alat-alat rekayasa piranti lunak dengan bantuan computer yang memfalitasi phototyping dan penciptaan kode.


  
4.4.      Place The Traditional SDLC, Prototyping and RAD into Perspective

SDLC tradisional, prototyping, RAD, dan BPR adalah cara-cara yang direkomendasikan dalam mengembangkan sistem informasi. SDLC tradisional adalah suatu penerapan pendekatan sistem terhadap masalah pengembangan sistem dan memiliki seluruh unsur-unsur pendekatan sistem dasar, yang diawali dari identifikasi masalah dan diakhiri dengan penggunaan sistem.
Prototyping adalah singkatan dari pendekatan sistem yang berfokus pada definisi dan pemenuhan kebutuhan pengguna.
RAD adalah pendekatan alternatif terhadap fase desain dan implementasi SDLC.
                   

4.5.      DECISION MAKING
Pembuatan keputusan (decision making) merupakan tindakan memilih di antara berbagai alternatif solusi pemecahan masalah. Keputusan (decision) didefinisikan sebagai tindakan pilihan dan sering kali perlu untuk mengambil banyak keputusan dalam proses pemecahan satu masalah saja.
Pembuatan keputusan diperlukan pada semua tahap kegiatan organisasi dan manajemen. Misalnya, dalam tahap perencanaan diperlukan banyak kegiatan pembuatan keputusan sepanjang proses perencanaan tersebut. Keputusan-keputusan yang dibuat dalam proses perencanaan ditunjukkan kepada pemilihan alternatif profram dan prioritasnya. Dalam pembuatan keputusan tersebut mencakup kegiatan identifikasi masalah, perumusan masalah, dan pemilihan alternatif keputusan berdasarkan perhitungan dan berbagai dampak yang mungkin timbul. Begitu juga dalam implementasi atau operasional dalam suatu organisasi, para manajer harus membuat banyak keputusan rutin dalam mengendalikan usaha sesuai dengan rencana dan kondisi yang berlaku. Sedangkan dalam tahap pengawasan yang mencakup pemantauan, pemeriksaan, dan penilaian terhadap hasil pelaksanaan dilakukan untuk mengevaluasi pelaksanaan dari pembuatan keputusan yang telah dilakukan.


4.6.      DECISION SUPPORT SYSTEM MODEL
Decision Support Systems (DSS) atau system pendukung keputusan adalah serangkaian kelas tertentu dari system informasi terkomputerisasi yang mendukung kegiatan pengambilan keputusan bisnis dan organisasi. Suatu DSS yang dirancang dengan benar adalah suatu system berbasis perangkat lunak interaktif yang dimaksudkan untuk membantu para pengambil keputusan mengkompilasi informasi yang berguna dari data mentah, dokumen, pengetahuan pribadi, dan atau model bisnis untuk mengidentifikasikan dan memecahkan berbagai masalah dan mengambil keputusan.
System pendukung keputusan atau DSS digunakan untuk mengumpulkan data, menganalisa dan membentuk data yang dikoleksi, dan mengambil keputusan yang benar atau membangun strategi dari analisis, tidak pengaruh terhadap computer, basis data atau manusia penggunanya.
Informasi yang biasanya dikumpulkan dengan menggunakan aplikasi pendukung keputusan akan melakukan:
a.     Mengakses semua asset informasi terkini, termasuk data legasi dan relasional, kompulan data, gudang data, dan kumpulan jumlah besar data.
b.     Angka-angka penjualan antara satu periode dengan periode lainnya.
c.     Angka-angka pendapatan yang diperkirakan, berdasarkan pada asumsi penjualan produk baru.
d.     Konsekuensi pilihan-pilihan pengambilan keputusan yang berbeda, dengan pengalaman dalam suatu konteks yang dirinci ulang.
Sudah begitu banyak perusahaan di berbagai industri yang bergantung pada perangkat, teknik dan pemodelan pendukung keputusan, untuk membantu mereka menganalisa dan memecahkan beragam pertanyaan bisnis sehari-hari. System pendukung keputusan bersifat tergantung oleh data, sebagaimana keseluruhan proses mengambil seluruh kumpulan data yang tersedia, untuk dianalisa.Persyaratan yang biasa dimiliki dalam penerapan Sistem Pendukung Keputusan Tingkat Tinggi:
a.     Pengumpulan data dari beragam sumber (data penjualan, data inventori, data supplier, data riset pasar, dsb).
b.     Penformatan dan penggunaan data.
c.      Lokasi database yang sesuai serta pembangunan format untuk pembuatan laporan dan analisa berbasis pengambilan keputusan.
d.     Perangkat dan aplikasi yang serba bisa dan mampu memberikan pelaporan, monitoring dan analisa terhadap data.

Berbagai Tipe Sistem Pendukung Keputusan (DSS):
1.    DSS model pasif adalah model DSS yang hanya mengumpulkan data dan mengorganisirnya dengan efektif, biasanya tidak memberikan suatu keputusan yang khusus, dan hanya menampilkan datanya. Suatu DSS aktif pada kenyataannya benar-benar memproses data dan secara eksplisit menunjukkan beragam solusi berdasarkan pada data tersebut.
2.    DSS model aktif sebaliknya memproses data dan secara eksplisit menunjukkan solusi berdasarkan pada data yang diperoleh, walau harus diingat bahwa intervensi manusia terhadap data tidak dapat dipungkiri lagi. Misalnya, data yang kotor atau data sampah, pasti akan menghasilkan keluaran yang kotor juga (garbage in garbage out).
3.    Suatu DSS bersifat kooperatif jika data dikumpulkan, dianalisa dan lalu diberikan kepada manusia yang menolong system untuk merevisi atau memperbaikinya.
4.    Model Driven DSS adalah tipe DSS dimana para pengambil keputusan menggunakan simulasi statistik atau model-model keuangan untuk menghasilkan suatu solusi atau strategi tanpa harus intensif mengumpulkan data.
5.    Communication Driven DSS adalah suatu tipe DSS yang banyak digabungkan dengan metode atua aplikasi lain, untuk menghasilkan serangkaian keputusan, solusi atau strategi.
6.    Data Driven DSS menekankan pada pengumpulan data yang kemudian dimanipulasi agar sesuai dengan kebutuhan pengambil keputusan, dapat berupa data internal atau eksternal dan memiliki beragam format. Sangat penting bahwa data dikumpulkan serta digolongkan secara sekuensial, contohnya data penjualan harian, anggaran operasional dari satu periode ke periode lainnya, inventori pada tahun sebelumnya, dsb.
7.    Document Driven DSS menggunakan beragam dokumen dalam bermacam bentuk seperti dokumen teks, excel, dan rekaman basis data, untuk menghasilkan keputusan serta strategi dari manipulasi data.
8.    Knowledge Driven DSS adalah tipe DSS yang menggunakan aturan-aturan tertentu yang disimpan dalam komputer, yang digunakan manusia untuk menentukan apakah keputusan harus diambil. Misalnya, batasan berhenti pada perdagangan bursa adalah suatu model knowledge driven DSS.

Manfaat Penggunaan Aplikasi Terapan DSS/Decision Support System
1.        Mempermudah dilakukannya analisa terhadap data master dan juga data transaksi perusahaan untuk kemudian menghasilkan berbagai laporan yang akan mendukung proses pengambilan keputusan oleh pihak manajemen perusahaan.
2.        Memberikan tampilan yang lebih enak dilihat dan lebih professional yang disesuaikan dengan kultur serta bidang bisnis perusahaan yang menggunakan aplikasi ini.
3.        Memberikan informasi terkini terhadap pergerakan angka-angka dalam perusahaan, atau bahkan bersifat real-time. Contohnya dalam hal ini; adalah pergerakan angka penjualan tiket pesawat setiap harinya, atau pergerakan angka kedatangan dan keberangkatan pesawat dari seluruh bandara di Indonesia (hasil kegiatan operasional perusahaan).



Contoh :


4.7.      EXPERT SYSTEM

A.    Definisi Expert System
Sistem Pakar (Expert System) merupakan suatu sistem yang menggunakan pengetahuan manusia dalam komputer untuk memecahkan masalah yang biasanya dikerjakan oleh seorang pakar, misalnya : Dokter, Lawyer, Analist Keuangan, Tax Advisor. Sistem pakar dapat mendorong perhatian besar diantara ahli komputer dan spesialist informasi untuk mengembangkan sistem membantu manajer dan non manajer memecahkan masalah. Sistem Pakar terdiri dari 4 bagian yaitu:
1.        User Interface
2.        Knowledge Base
3.        Inference Engine
4.        Development Engine

B.     Jenis-Jenis Expert System
a.    Interpretasi : Menghasilkan deskripsi situasi berdasarkan data sensor.
b.    Prediksi : Memperkirakan akibat yang mungkin dari situasi yang diberikan.
c.    Diagnosis : Menyimpulkan kesalahan sistem berdasarkan gejala.
d.   Design : Menyusun objek-objek berdasarkan kendala.
e.    Planning : Merencanakan tindakan.
f.     Monitoring : Membandingkan hasil pengamatan dengan proses perencanaan.
g.    Debugging : Menentukan penyelesaian dari kesalahan sistem.
h.    Reparasi : Melaksanakan rencana perbaikan.
i.      Instruction : Diagnosis, debugging dan reparasi kelakuan pelajar.
j.      Control : Diagnosis, debugging dan reparasi kelakuan sistem.

C.    Model Sistem Pakar
            Ada 4 model system pakar yaitu:

1.        User Interface
a.    Memungkinkan manajer untuk memasukan instruksi dan informasi ke dalam system pakar dan menerima informasi dari system pakar.
b.    Input system pakar, contoh : graphical user interface (Windows).
c.    Output system pakar , ada 2 jenis penjelasan yaitu penjelasan atas pertanyaan dan penjelasan atas penyelesaian masalah.

2.        Knowledge Base
Memuat fakta – fakta yang menjelaskan area masalah dan menerangkan masalah bagimana fakta – fakta tersebut cocok satu sama lain. Teknik menerangkan masalah yang popular adalah penggunaan aturan. Contoh aturan :
IF ECONOMIC.INDEX> 1,20 AND SEASONAL.INDEX > 1,30
THEN SALES.OUTLOOK = “EXCELLENT”.

3.        Inference Engine
Adalah bagian dari system pakar yang melakukan penalaran dengan menggunakan Knowledge Base berdasarkan urutan tertentu. Ada 2 metode utama:
a.         Penalaran maju , aturan – aturan diuji satu demi satu dalam urutan tertentu. Urutan mungkin berupa urutan pemasukan aturan ke dalam perangkat aturan, yang ditentukan pemakai.
b.  Penalaran mundur , inference engine memilih suatu aturan dan menganggapnya sebagai suatu masalah yang harus diselesaikan.Penalaran mundur bergreak lebih cepat daripada penalaran maju karena tidak harus mempertimbangkan semua aturan dan tidak membuat beberapa putaran melalui perangkat aturan.


4.        Development Engine
Ada 2 pendekatan dasar dalam development engine, yaitu :

a.         Bahasa Pemrogaman
System pakar dapat diciptakan dengan bahasa pemrogaman apapun, namun ada 2 yang cocok dengan representasi simbolis dari knowledge base, yaitu Lisp dan Prolog. Lisp (dikembangkan oleh McCarthy pada tahun 1959).

b.        Shell System Pakar
Salah satu system pakar pertama adalah Mycin yang dikembangkan oleh Edward Shortliffe dan Stanley Cohen. Shell system pakar membuat kecerdasan buatan terjangkau oleh perusahaan yang tidak memiliki sumber daya yang diperlukan untuk mengembangkan system sendiri dengan menggunakan bahasa pemrogaman. Di bidang bisnis, shell system pakar merupakan cara terpopuler bagi perusahaan untuk menerapkan system berbasis pengetahuan.

Contoh :
 
 




D.    Keuntungan Sistem Pakar
Bagi para manajer, keuntungan system pakar adalah:
1.   Mempertimbangkan lebih banyak alternatif.
2.   Menerapkan logika yang lebih tinggi.
3.   Menyediakan lebih banyak waktu untuk mengevaluasi hasil keputusan.
4.   Membuat keputusan yang lebih konsisten.

Bagi perusahaan, keuntungan system pakar adalah:
1.   Kinerja perusahaan lebih baik.
2.   Mempertahankan pengendalian atas pengetahuan perusahaan


E.     Kerugian Sistem Pakar
Kerugiannya dalam realita adalah bahwa system pakar tidak dapat menangani pengetahuan yang tida konsisten. Dimana dalam bisnis, hanya sedikit yang tetap sepanjang waktu karena berubah – ubahnya kinerja manusia.